Berhubung
minggu lalu aku sudah cerita soal bagaimana liburan hemat di rumah bersama keluarga dengan Program 1821. Kali ini aku mau cerita bagaimana berlibur hanya dengan pasangan
di sela-sela waktu yang kita punya.
Berduaan dengan pasangan itu penting lo,
terutama ketika usia pernikahan semakin menua. Seringkali rutinitas membuat
kita saling lupa untuk memiliki waktu hanya berdua dengan pasangan.
Kesibukan
pekerjaan seringkali memaksa kita hanya ngobrol seperlunya dengan pasangan. Sementara
para ibu terlalu sibuk dengan anak-anak dan pekerjaan rumah tangga. Belum lagi
kalau ditambah ngeblog, waah tambah sibuk aja ya, hehe.
Nah, ketika jam pulang
kerja pasangan biasanya pulang dengan membawa sejuta penat di tubuhnya, juga
jiwanya. rasanya pengen segera berjumpa kasur. Namun, anak-anak segera menyambut
para ayah dengan penuh bahagia, teman bermain akhirnya pulang. Para ayah pun
tak bisa mengelak. Toh, anak-anak juga obat stress dan lelah paling ampuh.
Ketika jam
tidur tiba, anak-anak mulai masuk kamar masing-masing, ayah dan ibunya pun
ikutan tidur karena telah capek dengan segala kesibukan hari itu. Kalaupun ada
obrolan yang terjadi, obrolan-obrolan mulai kehilangan emosi.
Bukan lagi sebuah
kebutuhan, namun hanya sekedar kewajiban, masa ya serumah nggak saling
berbincang. Akhirnya yang keluar tidak sebuah percakapan yang dalam, namun
sekedar basa-basi biar nggak garing.
Beberapa
pakar pernikahan dan parenting menyatakan bahwa pasangan juga butuh waktu untuk
berdua, tanpa anak-anak, untuk meningkatkan kualitas hubungan juga menjaga
gelora cinta agar tetap membara. Hubungan suami istri yang harmonis berpengaruh dalam kualitas hubungan orangtua dan anak.
Sayangnya banyak yang kemudian mengeluarkan
sejuta alasan betapa tidak mungkinnya memiliki waktu hanya berdua dengan pasangan.
Anak kan masih kecil-kecil, masa ditinggal pergi.
Anak-anak nggak ada yang
njagain. Nggak seru ah pergi tanpa anak-anak. Aku dan suami baik-baik saja tuh
meski nggak pernah punya waktu berduaan. Dan berbagai macam alasan lainnya.
Mengapa Kita perlu Waktu Berdua?
Dari data
yang didapat dari Puslitbang Kementrian Agama, tingkat perceraian dari 2010 –
2015 meningkat sebanyak 59-80 persen! Bahkan dari sebuah sumber menyatakan
bahwa dalam satu jam, ada 40 perceraian di Indonesia. Negara ini menduduki
peringkat pertama se-Asia Pasifik untuk masalah perceraian ini.
Ekonomi dan
perselingkuhan biasanya menjadi alasan terbesar terjadinya perceraian. Namun di
balik itu semua, ada alasan kecil yang bisa menjadi pemicu sebuah masalah utama
sumber perceraian terjadi, yaitu kebuntuan komunikasi.
Di Indonesia
seringkali menganggap komunikasi hanya sekedar bumbu dalam pernikahan. Namun
banyak komunikasi yang terjadi antara
suami istri tidak berkualitas, bahkan banyak yang keinginan sebenarnya tidak
dimengerti oleh pasangan.
Alih-alih mencoba menjelaskan maksud dan tujuan,
pihak yang arah komunikasinya tidak dimengerti ini hanya pasrah dan mengalah.
Komunikasi yang baik tentunya komunikasi yang terjadi dua arah, saling paham
dan mengerti, serta bisa menghasilkan solusi yang memuaskan kedua belah pihak.
Pernah ada
seorang kawan yang bercerita bahwa suaminya pada wawancara syarat masuk sekolah
anaknya tanpa babibu mengiyakan saja saat pihak sekolah bertanya apakah mereka sudah setuju dengan rincian
biaya yang ada. Padahal sang istri, kawanku ini, pengennya suaminya minta
keringanan pembayaran agar bisa dicicil lebih lama.
Saat ia bercerita hal
tersebut kepadaku, aku cuma bisa menanggapi, “La sebelumnya udah ngobrol belum
sama suaminya tentang hal ini?” Ia menjawab, “Aku sudah cerita kalau di sekolah tersebut bisa dicicil kok.”
Di antara dua
kalimat ini mana yang akan lebih menghasilkan komunikasi yang efektif menurut
teman-teman?
Pernyataan
pertama: “Yah, ternyata pembayarannya
bisa dicicil lebih lama kok.”
Pernyataan
kedua: “Yah, kalau kita mau, ternyata kita
bisa nego dengan pihak sekolah lo, jadi pembayaran bisa dicicil lebih lama.
Menurut ayah gimana?”
Kalau
menurutku sih, pernyataan pertama hanya sekedar memberi informasi bahwa di
sekolah A, pembayarannya bisa dicicil lebih lama dari ketentuan yang ada.
Sedangkan pernyataan B mengandung ajakan untuk berkomunikasi dan mencari solusi
bersama apakah kita membutuhkan waktu lebih lama dalam mencicil pembayaran
sekolah tersebut.
Seorang kawan
suami pernah bercerita bahwa ia dan sang istri sangat jarang ngobrol. Sesampainya
di rumah setelah masing-masing sibuk bekerja, mereka sudah kelelahan dan
langsung tertidur, begitu setiap hari.
Ketika hari libur tiba, istrinya sibuk
di dapur sampai siang, tak ada waktu untuk sekedar berbincang. Hal ini kemudian
membuat ia merasa kehidupan pernikahannya begitu garing dan mulai mencari-cari
sahabat di luar rumah.
Hati-hati
ketika salah satu di antara kita mulai merindukan persahabatan di luar
pernikahan. Kan sahabatku sama-sama perempuannya? Nggak masalah dong. Siapa
bilang?
Dengan meningkatnya kasus LGBT di Indonesia, mulai terungkap banyak
fakta bahwa ada beberapa pernikahan yang hancur karena suami atau istri
berselingkuh dengan sesama jenis. Nah lho!
Kalaupun
bersahabat dengan orang di luar pernikahan, jangan sekali-kali menceritakan
terlalu banyak permasalahan rumah tangga kita dengan mereka. Ketika kita merasa
memiliki masalah dalam pernikahan, sebaiknya segera kita konsultasikan dengan
ahlinya.
Bukan dengan orang yang
sama-sama tidak mengerti dan kadang memberikan masukan yang salah kaprah. Tiap
rumah tangga punya permasalahannya masing-masing, tidak bisa digeneralisasikan,
dan hanya pelaku dalam rumah tangga tersebut yang bisa mengatasi masalahnya.
Mulai merasa
tidak nyaman dengan pasangan, ngobrol tidak nyambung, kehidupan suami istri
yang garing, merupakan bukti bahwa gagalnya komunikasi di antara suami istri.
Ketika komunikasi buntu, perselisihan mulai muncul.
Ketika perselisihan muncul,
benih-benih kejengkelan yang tadinya cuma dipendam mulai keluar satu per satu.
Dari masalah ekonomi, anak, perhatian yang kurang dan segala macam.
Ketika
komunikasi buntu dan pasangan tak bisa menjadi tempat ngobrol yang enak,
mulailah pencarian ‘sahabat’ dilakukan. Awalnya sih hanya iseng, cari teman
cerita, ujung-ujungnya cari kesenangan yang lain.
Wow, ternyata kunci dari semua masalah dalam pernikahan ada dalam sebuah kata sederhana, K-O-M-U-N-I-K-A-S-I.
Tips Menjadikan Dunia Milik Berdua
Jadi bagaimana bisa tetep efektif berkomunikasi dengan suami, meski sudah punya anak? Ini beberapa hal yang selama ini aku lakukan bersama suami.
1. Menciptakan Waktu Berdua
Kita tidak
harus menunggu waktu itu datang, tapi yuk kita ciptakan. Sebagaimana
seru-seruan dengan anak tidak perlu menunggu hari libur tiba, namun bisa
tercipta setiap harinya dengan adanya program 1821, waktu berdua dengan
pasangan pun bisa diciptakan. Abah Ihsan Baihaqi menyebutnya dengan Program 2122.
Program 2122 diperlukan
untuk menciptakan waktu ngobrol yang berkualitas bersama pasangan. Mungkin saat
anak belum tidur, kita sudah sempat ngobrol, namun akan beda hasilnya ketika
kita hanya ngobrol bersama pasangan tanpa interupsi anak-anak.
Apalagi kalau
anaknya sejenis kaya si Ifa, kalau doi belum tidur, nggak bakalan ayah bundanya
bisa ngobrol. Kata dia, “Ayah bunda diam.
Nggak boleh ngomong. Ngomongnya sama aku aja”. Hehehe. Apalagi terkadang
ada beberapa materi obrolan yang sebaiknya tidak didengarkan oleh anak-anak.
Program ini juga
bisa menjadi salah satu alternatif untuk pasangan yang nggak rela meninggalkan
anak-anak di rumah untuk sekedar kencan di luar rumah berdua.
Ya, setelah
anak-anak tertidur, saat itulah waktu yang tepat untuk bercengkrama dengan
pasangan. Syaratnya sama seperti program 1821 ya, singkirkan segala benda kotak
di antara kita. No TV, no gadget, no laptop, no kompor, no mesin cuci, no koran,
dan apapun yang kotak-kotak itu.
Fokuskan
hanya untuk berbincang, ngobrol, berkomunikasi, bercerita, bercengkrama.
Intimasi tidak melulu soal hubungan seksual semata kan?
Wanita perlu waktu
untuk mengeluarkan 3000 kata setiap hari, bayangkan kalau tidak tersalurkan,
anak-anak yang kena getahnya, maka memang tugas suami untuk menampung kata-kata
itu.
Jangan berdalih
kasihan suami sudah capek seharian bekerja. Kalau ngomongin capek, aku yakin
baik suami dan istri sama-sama capek kok.
Yang satu capek ngantor, yang satu
capek ngurus anak dan rumah. Jadikanlah waktu 2122 menjadi hadiah untuk saling melepas
lelah masing-masing.
Untuk yang
sudah biasa ngobrol, hal seperti ini mungkin terlihat mudah. Namun di luar sana
banyak yang ngobrol aja harus diajari lo. Ngapain aja dong di 2122? So, yuk
kita praktekkan bareng-bareng.
2. Pilih Tempat yang Nyaman untuk Ngobrol
Biasanya sih yang dipilih tetap kamar tidur. Sembari berbaring dan nunggu ngantuk, kita bisa menciptakan pillow talk yang hangat dan berkualitas. Namun ada sisi negatif jika ngobrolnya di kasur, biasanya ada satu yang kemudian tertidur duluan gegara berasa didongenin, hehe.Coba sekali-kali nongkrong di teras rumah sambil makan roti bakar atau cemilan
lainnya, jangan lupa dua gelas teh atau kopi hangat. Sambil menikmati malam
yang sunyi, 2122 akan terasa syahdu.
3. Awali dengan Sederhana
Tanyakan pada pasangan kesibukan hari ini. Jika obrolan sudah mulai mengalir, kita bisa memasukkan topik-topik yang sedikit berat, misal cerita soal anak yang sekarang suka memukul, anak yang mulai kecanduan gadget, kondisi keuangan yang sedang nggak oke, tawaran kerja dari agensi yang membutuhkan jam kerja yang panjang, dan sebagainya. Ajak pasangan untuk mencari solusi.4. Tutup dengan Kecupan Hangat
Setelah dirasa yang dibutuhkan sudah tersalurkan dan terungkapkan dengan baik, tidak ada lagi ganjalan di hati, maka ajak pasangan untuk segera menarik selimut. Eeh? Tidur maksudnya. Tapi kalau mau ‘beraktivitas’ sebelum tidur ya mangga J Hehe.Aku sih biasanya kalau sudah kadung ngobrol dengan suami, malah nggak
bisa berhenti, tiba-tiba bisa sampai jam 1 pagi J.
Kalau nggak ingat harus istirahat, diterusin sampai jam lima pagi juga hayuk.
Jangan lupa tutup dengan kecupan hangat dan ucapkan terima kasih karena
pasangan sudah mau meluangkan waktu untuk ngobrol bersama.
Sesuatu yang
mengganjal dan kebuntuan yang dibiarkan berlarut-larut akan memunculkan masalah
demi masalah baru. Semoga dengan program 2122, kita bisa mengurai benang kusut
yang mulai timbul di dalam pernikahan.
Sesekali masak
atau nonton DVD bersama bisa menjadi alternative kegiatan. Suasana malam
bercampur dengan keseruan dua insan menyiapkan
dinner atau mengomentari film yang ditonton bisa meleburkan kekakuan dan
menciptakan kehangatan yang berujung pada kebersamaan yang lebih berkualitas di
pagi hari.
Oya, selain
mengkhususkan berbicara dari hati ke hati setiap 2122, jangan lupa
komunikasi-komunikasi ringannya juga harus tetap dijaga ya. Sekedar mengirim pesan
mengingatkan makan siang atau shalat, dan pesan singkat seperti “love u, my hubby” bisa menjadi bumbu manis
dalam pernikahan.
Liburan tidak
harus selalu menunggu hari Minggu dan tanggal merah tiba kok. Jika tujuan
berlibur adalah berhenti dari segala aktivitas yang melelahkan dan melakukan
aktivitas baru untuk menghasilkan badan dan pikiran yang lebih fresh, maka
berlibur bisa kapan saja.
Termasuk berlibur dengan pasangan. Tidak perlu nunggu
pasangan kita ambil cuti dari kantornya, setiap malam setelah anak-anak tidur,
kita bisa menciptakan waktu libur sendiri.
Selamat
mencoba!
#OneDayOnePosting
FunBlogging Day 14
Biar selalu harmonis dan romantis ya mbak siiplah
ReplyDeletebetul betul betul :)
DeleteSaya pun sebisa mungkin ciptakan komunikasi shg bisa saling share keadaan masing2 hehehe. TFS mba ^^
ReplyDeleteBetul mbak, meski sudah menikah harus tetap konek satu sama lain :)
Deleteih mbak marita kreatif ya bikin ide2 kyk gini terus ditulis...aku juga sering me time sama suami.menurutku perlu banget, supaya pernikahan awet dan kita berdua selalu berkomunikasi untuk hal2 kecil sekalipun.memang komunikasi itu perlu. wah angka perceraian di Indonesia tinggi ya.program 2122 baru tahu nih.
ReplyDeleteIya mbak tinggi banget.. Makanya harus membantu pemerintah menekan angka perceraian.. Hihi
DeleteIya mbak.. Komunikasi itu penting banget, tp kadang seiring usia Pernikahan bertambah, kebiasaan berkomunikasi jadi tergerus.. Smoga ini bs jadi pengingat untukku n yang membaca postingan ini
Kadang, kalo anak-anak sudah tidur..suamiku nemenin aku nulis sambil ngobrol. jadinya..malah tulisan nggak selesai karena kebanyakan ngobrol..hihi
ReplyDeleteAsh bener mbak.. Malah keasyikan ngobrol ya :D
DeleteAku ngobrol sama suami kalo ketemu, kan hampir seringnya di luar kota. Jadi nggak ada waktu khusus. Makanya aku suka ngintil kalo suami ngajakin, hihiii
ReplyDeleteWaah.. Long distance marriage mbak.. Aku nggak kuku daah :D
DeleteHEHEHE... NYIMAK AH... SAMBIL MINUM KOPI, SALAM KENAL MBAK
ReplyDeleteSalam kenal jg
DeleteHihi. aku baca ini sambil ngekek, soale berdua sama-sama masih melek tapi sibuk dg gadget masing2.
ReplyDeletekadang sih, kalo pas sore malah muterin komplek nyari angin sambil ngobrol berdua aja :)
Nah itu.. Klo masih sibuk sama gadget masing2 belum fokus berarti hehe
DeleteAlhamdulillah, karena kami dua-dua adalah DRS (Di Rumah Saja), urusan ngobrol selalu ada tiap hari. Hanya memang kadang merasa perlu untuk menyempatkan khusus ngobrol berdua lebih intim. Gak cuma pillow talk jelang tidur, tapi bener-bener ngobrol hat ke hati. Berasa kok bedanya setelah ngobrol gitu :)
ReplyDeleteBetul Pak.. Disengaja Khusus untuk ngobrol ato sambil lalu hasilnya beda :)
DeleteKomunikasi, itu salah satu kuncinya ya Mbak :) catet! :)
ReplyDeleteYuuk, catet :)
DeleteHmm mbak kalau baca artikelnya mbak ini membuat saya kepikiran nih sudah hampir 3 tahun lebih saya belum ketemu lagi dengan teman tercantiku nih, bagaimana ya caranya bisa ketemua sulit sekali untuk mencari informasi tentang dia. Hmm jadi sedih sekali tapi untuk saja saya masih bisa lihat wajahnya walau hanya lewat photo tapi itu bisa mengobati kerinduan saya kepada dia teman tercantiku.
ReplyDeleteWaduh.. Kayanya gak nyambung sama Artikel sy Pak :D
Delete